Laman

Jumat, 16 Maret 2012

Macam - Macam Ibadah


Dilihat dari pengertiannnya, ibadah ada dua jenis, yaitu ibadah khusus dan ibadah umum. Ibadah khusus ialah semua amalan yang tercantum dalam bab ibadah baik yang berkaitan dengan waktu-waktu khusus seperti shalat fardhu, zakat, puasa, dan sebaginya, maupun yang berkaitan dengan kekhususan tempat dan waktu seperti menunaikan haji, dan juga yang berkaitan dengan kekhususan tempat seperti shalat jum’at dan shalat tahiyyatul mesjid.
Adapun ibadah-ibadah yang tidak tercakup dengan pengkhususan di atas, maka ianya bersifat mutlak (boleh diamalkan), selama tidak ada dalil-dalil yang mengharamkannya (seperti dengan sebab berhadats). untuk dilaksanakan pada tempat-tempat tertentu, atau pada masa-masa tertentu, atau pada individu-individu tertentu. Ini disebut dengan ibadah umum.
Di antara ibadah umum adalah misalnya shalat sunat mutlak, puasa sunat mutlak, mambaca al-Quran, bersedeqah, membantu fakir miskin, dan sebaginya selama tidak ada dalil yang mengharamkan perlaksanaannya sebagaimana adanya alasan tempat, waktu dan individu, maka ianya sunat dilakukan.
Sebagai contoh haramnya sesuatu ibadah sunat yang mutlak karena bertemu dengan dalil pengharaman sehubungan dengan alasan waktu adalah misalnya, haram puasa sunat pada hari Raya, shalat sunat tanpa sebab pada waktu-waktu yang diharamkan seperti setelah shlat Asar, waktu tenggelamnya matahari, setelah shalat subuh, waktu terbitnya matahari, dan sebaginya.
Adapun dzikir adalah termasuk ibadah umum yang boleh dilakukan di mana saja, dalam bentuk apa saja, selama bentuk-bentuk dan cara perlaksanaannya tidak ada nash atau dalil yang mengharamkannya. Jika bertemu adanya nash atau dalil-dalil lain yang mengharamkannya, misalnya ada dalil yang melarang mengucap dzikir dengan lisan di dalam wc, maka ia haram mengucapkannya selama berada di dalamnya. Selain itu, selama ada dalil umum yang memayungi keharusan ibadah sunat tersebut, dan tiada pula dalil pengharaman bentuk dan cara perlaksanaannya, maka ianya dibenarkan mengamalkannya.
Selain itu, untuk mencapai keabsahan dalam pelaksanaan ibadah umum, dalam arti untuk memperoleh pahala dari pelaksanaannya harus memenuhi syarat-syarat berikut:
1. Amalan yang dikerjakan itu di akui oleh syarak dan sesuai dengan Islam.
2. Amalan tersebut tidak bertentangan dengan syariat, tidak zalim, khianat dan sebagainya
3. Amalan tersebut dikerjakan dengan niat ikhlas semata-mata keranaAllah swt. tidak ria, ujub dan um’ah.
4. Amalan itu hendaklah dikerjakan dengan sebaik-baiknya
5. Ketika mengerjakan amalan tersebut tidak lalai atau mengabaikan kewajiban ibadah khusus seperti shalat dan sebagainya.
    Firman Allah:
“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang”. (Q.S. An-Nur: 37)

Amalan-Amalan yang Tidak Menjadi Ibadah
Dilihat dari syarat-syarat di atas, nampaklah kepada kita bahwa sesuatu amalan yang dikerjakan oleh seseorang begitu sukar sekali untuk mencapai kesempurnaan dalam makna ibadah dengan artikata yang sebenar-benarnya mengikut syarat-syarat dan ketentuan tersebut di atas, oleh itu kita hendaklah bersungguh-sungguh dalam mengusahakan amalan kita supaya dapat mencapai matlamat ibadah yang sempurna dengan menyempurnakan segala syarat-syaratnya, dan kita hendaklah sentiasa meneliti dan memperhatikan dengan sungguh-sungguh agar kita tidak tertipu dengan amalan kita sendiri; dengan menyangka kita telah banyak melaksanakan amal ibadah dengan sempurna tetapi pada hakikatnya tidak demikian, kita takut akan tergolong ke dalam golongan manusia yang tertipu dan sia-sia amalan kita dan apa yang kita dapat hanyalah penat dan lelah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar